Renungan (wasukurillah)

March 25th, 2008 by udin-wiratno

 

Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan
paras dapat menyesatkan.

 
Jangan
pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah
kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat
membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti
itu.

 

Ada


saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin
hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu
memimpikan orang seperti itu.

 
Bermimpilah
tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat tempat kamu ingin
pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan,karena kamu hanya memiliki satu
kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

 
Semoga
kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang
cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi,
pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli
hadiah-hadiah.

 
Ketika
satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali
kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu
lain yang dibukakan bagi kita.

 
Sahabat
terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa
mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan
telah bercakap-cakap lama dengannya.

 
Sungguh
benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya,
tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita
miliki sampai kita mendapatkannya.

 
Pandanglah
segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu,
sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itu pula.

 
Kata-kata
yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam
dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya
dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan
memberkahi.

 
Awal
dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan
tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya
mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.

 
Orang-orang
yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya
berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

 
Mungkin
Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum
bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih
atas karunia itu.

 
Hanya
diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai
seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur
hidup untuk melupakan seseorang.

 
Kebahagiaan
tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang
mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai
pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.

 
Cinta
adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih tetap peduli
padanya.

Hal
yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat
berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu
harus melepaskannya.

 
Cinta
dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir
dengan tetesan air mata.

 
Cinta
datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada
mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih
mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.

 
Sungguh
menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih
menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian
untuk mengutarakan cintamu kepadanya.

 
Masa
depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak
dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit
hati di masa lalu.

 
Jangan
pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah
menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak
mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

 
Memberikan
seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan
mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya,
tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuhdihatimu.

 

Ada

hal-hal
yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang
yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan
telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.

 
Waktu
kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang disekelilingmu tersenyum , jalanilah
hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang
disekelilingmu menangis.

 

.replbq{width:100%}

var LetterVals =
{
UIStrings : {

__last : ‘not used’
},

StateDynamic : true,
yplus_browser : false,
premium_user : false,
smsintl : “”,
SidebarSyncActionType : “read”,
SidebarSyncAuxActionType : “”,
SidebarSyncUID : “48595″,
SidebarSyncAuxUID : “”,

getString : function(id)
{
var result = this.UIStrings[id];
if ( result == null ) {
return “Not translated: ‘” + id + “‘”;
}
return result;
}
}

var YAHOO = window.YAHOO ? window.YAHOO : {};
if ( !YAHOO.ShortcutsExt ){
YAHOO.ShortcutsExt = {};
YAHOO.ShortcutsExt.CustomConfiguration = {};
}
YAHOO.ShortcutsExt.CustomConfiguration.PartnerName = “Yahoo!”;
YAHOO.ShortcutsExt.CustomConfiguration.HelpUrl = “http://help.yahoo.com/us/mail/shortcuts”;

Enterprise Resource Planning:Menyelaraskan Teknologi Informasi dengan Strategi Bisnis

March 11th, 2008 by udin-wiratno

Enterprise Resource Planning

Menyelaraskan Teknologi Informasi dengan Strategi Bisnis

Udin Wiratno

(Peresensi adalah Mahasiswa Program MBA, SBM ITB)

Setiap orang pasti sudah mengenal ERP, karena peranannya yang semakin vital didalam dunia industri. Tren pengembangan industri sekarang ini dikelola dengan sistem desentralisasi dan pembentukan alur kerja yang terintegrasi. Oleh karena itu, setiap orang di berbagai departemen harus mengetahui ERP karena pengelolaan tersebut menekankan integrasi alur kerja dari hilir ke hulu. Kekomplekan ERP masih merupakan tantangan dalam implementasi ERP. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan implementasi ERP pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu menengok ke belakang, memahami dasar-dasar dan perkembangan ERP terlebih dahulu, memahami strategi implementasi ERP, baru mengimplementasikan ERP.

Buku Enterprise Resource Planning: Menyelaraskan Teknologi Informasi dengan Strategi Bisnis ditulis oleh Wawan Dhewanto. Buku ini mengupas mengenai esensi dan strategi implementasi ERP agar penerapan ERP sesuai dengan strategi bisnis perusahaan. Bab awal buku ini mengupas esensi ERP dari berbagai definisi. Kata kunci ERP dari sudut pandang definisi yaitu aspek perencanaan yang terintegrasi di suatu organisasi/perusahaan, bersifat lintas fungsional, terdiri atas berbagai fitur dengan tujuan agar dapat mengelola sumberdaya organisasi dengan lebih efisien dan dapat merespon kebutuhan pelanggan lebih baik. Dari sini baru diketahui bahwa ERP bukan semata-mata paket software. Adapun software ERP merupakan salah satu alat pendukung implementasi ERP.

Cikal bakal ERP adalah konsep Material Requirement Planning (MRP) atau perencanaan kebutuhan material. Konsep ini muncul dari proses pengolahan bill of material (BOM) atau daftar kebutuhan material yang harus disediakan untuk membuat suatu produk. Selanjutnya dari berbagai implementasi MRP dikembangkan menjadi sebuah sistem yang dirancang untuk perencanaan pekerjaan, penjadwalan inventori internal dan eksternal. Inti dari evolusi ERP untuk mempermudah pengelolaan perusahaan sesuai dengan perkembangan proses bisnis perusahaan. Jadi untuk memahami ERP berarti harus memahami proses bisnis di perusahaan manufaktur terlebih dahulu.

Proses produksi yag dilakukan oleh perusahaan pada hakikatnya merupakan proses pertambahan nilai atas suatu barang. Proses pertambahan nilai merupakan satu mata rantai yang berhubungan dari pemasok sampai ke konsumen. Pada awalnya pengelolaan proses penambahan nilai yang juga disebut supply chain dilakukan secara manual dengan menggunakan kertas. Dalam perkembangannya seiring dengan kemajuan teknologi akhirnya disadari bahwa supply chain tidak bisa berdiri sendiri. Sebagai responnya maka munculah Material Requirement Planning (MRP) yang mengintegrasikan antara proses produksi, pengadaan dan manajemen inventori. Sistem MRP berkembang lagi menjadi MRP II dan akhirnya menjadi ERP. Konsep integrasi sistem yang pernah dibangun yaitu PDM, MRP, JIT, KANBAN, CRM, dan SCM.

ERP merupakan konsep pengintegrasian fungsi-fungsi di dalam perusahaan yang penerapannya akan lebih mudah jika didukung dengan pengembangan sistem teknologi informasi yang sesuai dengan perusahaan. Bentuk ERP biasanya berupa paket sistem ERP yang terdiri dari sekumpulan modul-modul pendukung berbagai fungsi dan proses pada perusahaan. Modul ERP dirancang untuk mendukung proses dengan mengintegrasikan data pada setiap tahapan proses produksi.

Sistem ERP adalah seperangkat infrastruktur dan software yang tidak dapat dilepaskan dari aspek “best practices”, artinya mencerminkan cara terbaik dalam mengelola bisnis berdasarkan pengalaman para pelaku bisnis atau teori akademik. . Jika dipandang sebagai sebuah proses, implementasi ERP dapat dibagi menjadi tiga fase yaitu fase inisiasi, pelaksanaan, dan penyelesaian proses.

Sistem ERP merupakan sistem yang besar dan komplek, berpengaruh pada sebagian besar departemen yang merupakan pelaku proses bisnis utama dalam perusahaan. Keberhasilan implementasi sistem ERP tidak terlepas dari dukungan manajemen, keterlibatan user, dan sasaran proyek yang jelas. Untuk mengeliminasi kegagalan implementasi sistem ERP, pemahaman atas siklus hidup implementasi ERP sangat penting. Buku ini menyajikan siklus hidup implementasi ERP dalam lima fase. Fase pertama yaitu fase perencanaan, diawali dengan pembentukan komite pengarah. Komite pengarah bertugas mengidentifikasi tujuan utama dan ruang lingkup proyek ERP. Fase analisis bertugas mengevaluasi vendor yang sesuai dan merekomendasikan kepada tim pengarah. Pada fase ini idealnya menghasilkan prototype sistem ERP untuk menyimulasikan dan menunjukkan integrasi antar modul kepada user serta identifikasi kebutuhan tambahan lainnya. Fase desain, dimulai setelah perusahan memutuskan vendor. Tingkat desain tergantung pada pendekatan ERP. Pada pendekatan kostumasi perencanaan aplikasi, prototype dan database dilakukan secara intensif. Aspek lainnya yang penting adalah desain hardware, meliputi pemilihan arsitektur client-server dengan pertimbangan software yang berasal dari berbagai platform. Dan pada akhir fase ini dilakukan pelatihan pada end user. Setelah fase desain tahap selanjutnya yaitu fase implementasi.

Implementasi sistem ERP merupakan investasi perusahaan guna meningkatkan kinerja perusahaan. Sistem ERP bisa digolongkan aset intelektual perusahaan. Mengingat sistem ERP sangat mahal maka perlu dipastikan kesuksesan implementasi ERP. Supaya implementasi sistem ERP berjalan sesuai apa yang diharapkan ERP harus disesuaikan dengan kebutuhan user, tim yang terlibat dalam implementasi sistem ERP terdiri dari orang-orang yang berpengaruh dan profesional sehingga dapat menjaga agar proyek implementasi ERP tetap berjalan, perlu dukungan dari vendor atau konsultan, serta dilakukan pelatihan secara kontinyu kepada end user.

Buku ini menjelaskan tahapan-tahapan implementasi secara terstruktur agar esensi implementasi mudah dipahami. Pemahaman atas esensi implementasi sistem ERP sangat penting karena implementasi sistem ERP akan terus berkembang seiring dengan kebutuhan perusahaan.

Buku ini juga membahas esensi cara penggunaan software ERP dari berbagai vendor. Disertai dengan alamat situs website, buku ini menyajikan karakteristik setiap software yang dibuat oleh vendor IFS, Oracle, Microsoft, SAP AG dan banyak lagi lainnya serta open source yang menyediakan paket ERP gratis. Industri modern menuntut setiap orang didalam perusahaan harus bekerja dengan sistem ERP. Oleh karena itu, pemahaman esensi ERP sangat diperlukan untuk keberhasilan implementasi sistem ERP. Dengan menjelaskan dasar ERP dan menyediakan open source buku ini mengajak pembaca untuk mencoba langsung paket sistem ERP melalui internet. Melalui karakteristik bahasa yang mudah dipahami, bahasan yang terstruktur, serta penjelasan penggunaan sistem ERP membuat buku ini sangat berguna bagi siapapun baik bagi profesional, pengguna ERP, serta orang yang ingin menambah wawasan ERP.

Judul Buku: Enterprise Resource Planning: “Menyelaraskan Teknologi Informasi dengan Strategi Bisnis”.

Penulis: Wawan Dhewanto dan Falahah.

Penerbit: INFORMATIKA, Bandung, 2007.

Tebal Buku: XX-238 Halaman.

Menghadapi Persaingan pada Industri Telepon Seluler

October 18th, 2007 by udin-wiratno

Restrukturisasi  Nilai Berdasarkan Consumer Insight sebagai Solusi untuk Menghindari Price War pada Industri Seluler di Indonesia

(Ditulis Oleh: Udin Wiratno, Wawan Dhewanto, Irwan Fahrudin)

Selayang Pandang: Industri Telepon Seluler Indonesia

Dewasa ini industri telepon seluler telah memasuki sebuah babak baru. Sejak diberlakukannya Undang-undang No. 36/1999 mengenai telekomunikasi dan regulasi pemerintah tahun 2002 yang mengijinkan operator seluler luar negeri memasuki pasar Indonesia, sejak saat itulah industri telekomunikasi Indonesia masuk pada babak liberalisasi telekomunikasi. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang menempati urutan ke empat dunia menggambarkan bahwa pangsa pasar telekomunikasi Indonesia masih sangat luas yang menarik minat operator asing masuk ke Indonesia. Pelaku pasar industri telepon seluler yang tadinya hanya Telkomsel dan Indosat, sekarang ini berkembang menjadi sepuluh operator yang bermain di industri telepon seluler.

Tabel 1. Pelaku Pasar, Jumlah Pelanggan, dan Pangsa Pasar Telepon Seluler di Indonesia[1]

Operator

Produk

Teknologi

Jumlah Pelanggan

Pangsa Pasar

PT. Telkomsel

Halo, Simpati, Kartu AS

GSM 900/1800

35,6 juta

55,6

PT. Indosat

Matrix, Mentari, IM3

GSM 900/1800

15,9 juta

24,8

PT. Excelcomindo

Xplor, Jempol, Bebas

GSM 900/1800

9,5 juta

14,8

PT. Bakrie Telecom

Esia, Ratelindo

CDMA 2000

1,6 juta

2,5

PT. Mobil-8 Telecom

Fren

CDMA

1,4 juta

2,2

PT. Natrindo Seluler

Natrindo

CDMA 1800

-

kurang dari 0,5

PT. Sampoerna Telekom

Sampoerna

CDMA 450

-

kurang dari 0,5

PT. Pasifik Satelit Nusantara

PSN

GSM/AMPS Satelite

-

kurang dari 0,5

PT. Hutchison CP

-

-

-

-

PT. Sinar Mas

-

-

-

-

Jika kita menengok kebelakang, Indosat merupakan pemain pertama dalam industri telepon seluler, baru Telkomsel masuk yang akhirnya menjadi market leader sampai sekarang. Kala itu mengingat industri telepon seluler masih baru, pemerintah masih melindungi industri pertelekomunikasian. Telkomsel dengan strateginya yang membangun jaringan dari daerah berhasil mengembangkan pangsa pasar industri telepon seluler dan sekaligus menjadi market leader. Baru beberapa tahun kemudian Excelcomindo masuk yang diikuti oleh Bakrie Telecom dan seterusnya setelah pemerintah membuka persaingan lebar-lebar dalam industri telepon seluler. Regulasi pemerintah tahun 2002 mengubah atmosfir industri telepon seluler. Persaingan dan kebijakan-kebijakan baru yang menentukan arah perkembangaan telekomunikasi di Indonesia menyebabkan industri telepon seluler menjadi turbulence. Persaingan yang cukup ketat membuat product life cycle telepon seluler menjadi pendek. Bahkan yang sekarang terjadi, akibat dari persaingan yang cukup ketat mengarah pada perang harga dimana masing-masing operator seluler baik new comer maupun incumbent (pemain lama) menawarkan tarif serendah mungkin kepada konsumen. Sebagai new comer para operator baru langsung menggebrak dengan strategi introducing product.

Dalam perkenalan pertamanya dengan consumer, para pemain baru (Bakrie Telecom, Mobil-8, Nutrindo, Hutchsion SP, dll) menebar pesona pada setiap consumer dengan tarif murah dan promosi besar-besaran. Perang harga tak terhindarkan ketika incumbent tergiur untuk mengkapitalisasi pasar seluler yang terus berkembang. Berbagai produk baru dengan layanan yang lebih spesifik untuk target market tertentu dikeluarkan, alih-alih merasa posisinya terancam dan para incumbent pun menabuh genderang perang tarif pada industri telepon seluler. Ibarat sepotong kue besar yang menarik banyak peminat. Akibat edukasi besar-besaran oleh para new comer dan semakin terjangkaunya berbagai layanan seluler oleh setiap lapisan masyarakat menyebabkan pangsa pasar seluler di Indonesia pun terus mengalami peningkatan.

Peningkatan pengguna telepon seluler yang cukup fantastis terjadi pada tahun 2002 dimana pada tahun tersebut pertumbuhannya mencapai 76.3%. Dalam kurun waktu tiga tahun yaitu tahun 2002 sampai tahun 2005 peningkatan pertumbuhan pengguna telepon seluler mencapai diatas 50%. Sedangkan pada tahun 2006 dan tahun 2007 peningkatan pangsa pasar telepon seluler mencapai 15.9% dan 20%.

Tabel 2. Perkembangan Jumlah Pelanggan Telepon Seluler di Indonesia untuk Tahun 2000 - 2006[2]

Tahun

Jumlah Pelanggan (ribu)

Pertumbuhan (%)

Teledensitas Seluler/100

2000

3,509

62.8

1.7

2001

6,394

82.2

3.1

2002

11,273

76.3

5.3

2003

18,,494

64.1

8.6

2004

30,337

64.0

13.6

2005

46,910

54.6

21.1

2006

54,370

15.9

24.4

Pangsa pasar seluler yang luas tidak bisa dipandang secara general. Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, para pelaku pasar operator seluler melakukan segmentasi pasar. Melalui segmentasi pasar para pelaku pasar (market conduct) seluler beramai-ramai menawarkan layanan produk yang spesifik dan berbeda. Inovasi produk dari segi fitur dan layanan terus berkembang sehingga saat ini banyak sekali jenis produk layanan seluler yang dikeluarkan oleh masing-masing operator. Kendati demikian pasar seluler di Indonesia masih terkonsentrasi pada produk yang ditawarkan oleh tiga operator seluler besar yaitu Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo.

Dari tabel 1 di atas terlihat bahwa konsentrasi pangsa pasar produk seluler masih didominasi oleh pemain-pemain pasar lama seperti Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo. Hal ini dikarenakan tiga operator besar tersebut sudah mempunyai pasar sendiri yang merupakan pelanggan setia (customer loyalty) dari operator tersebut. Dengan mendapatkan keuntungan start lebih awal, tiga operator seluler tersebut berhasil membangun brand image pada target segmennya masing-masing. Penurunan tarif yang dilakukan oleh tiga operator besar sekarang ini lebih kepada meladeni persaingan dari new comer dengan mempertahankan pelanggan tetapnya dan mengkapitalisasi potensi pasar yang terus tumbuh.

Gambaran Perang Tarif antar Operator Seluler

Perang harga menyebabkan tarif jasa telepon seluler makin kompetitif. Penawaran produk dan layanan seluler sekarang ini tidak terlepas dari penawaran benefit harga layanan yang digunakan sebagai senjata untuk menarik konsumen. Mulai dari penawaran SMS gratis sampai ke penawaran tarif 0 rupiah dilakukan oleh para operator untuk menjaring pengguna seluler baru. Struktur kompetisi harga pada industri layanan seluler di Indonesia dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4. Tarif Telepon Lokal antar Pelanggan dari Operator yang Sama (on-net)[3]

Jaringan

Operator

Produk

Tarif Rata-rata (per menit)*)

Telepon Tetap (Fixed Line)

PT. Telekom

Telkom

Rp125

PT. Telekom

Flexi/Trendy

Rp260

PT. Bakrie

Esia

Rp50

PT.Indosat

Star One

Rp16.65

Seluler

PT. Telkomsel

Simpati

Rp3.000

PT. Excecomindo

Bebas

Rp1.248

PT. Indosat

Mentari

Rp3.000

PT.Mobil-8

Fren

Rp. 275 menit pertama dan Rp. 14 menit berikutnya.

Dari tabel di atas terlihat bahwa Mobil-8 dengan produk Fren memasang tarif termurah yaitu 275 rupiah untuk menit pertama dan 14 rupiah untuk menit berikutnya. Persaingan tarif seluler telah melebar, yang tadinya persaingan hanya di industri seluler saja sekarang telah bergeser ke industri telepon tetap (fixed line). Untuk telepon tetap sendiri Indosat dengan produknya, Star One, memasang tarif termurah yaitu sebesar 16.65 rupiah permenit. Gambaran persaingan tarif ini masih dalam lingkup sesama operator, gambaran persaingan tarif lokal untuk lingkup antar operator dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5. Biaya Telepon Lokal antar Pelanggan dari Operator yang Berbeda (off-net)[4]

Jaringan

Operator

Produk

Tarif Rata-rata (per menit)*)

Telepon Tetap

Telkom

Telkom/Flexi

Rp810

Bakrie

Esia

Rp800

Indosat

Star One

Rp750

Seluler

Telkomsel

Simpati

Rp3.200

Excelcomindo

Bebas

Rp1.537

Indosat

Mentari

Rp3.000

Mobil-8

Fren

Rp800

Untuk biaya tarif seluler dari operator yang berbeda Mobil-8 dengan produk Fren menawarkan tarif 800 rupiah per menit yang merupakan tarif paling murah diantara yang lainnya. Penawaran tarif murah yang ditawarkan kepada pelanggan lainnya yaitu kartu Bebas sebesar 1.537 rupiah per menit yang merupakan produk Excelcomindo. Telkomsel dengan produk Simpati memasang tarif tertinggi sebesar 3.200 rupiah per menit.

Untuk mengetahui besarnya pelanggan yang tidak tersisten terhadap tarif (customer loyalty) yang berhasil dikapitalisasi oleh masing-masing operator dapat dilihat dari penetapan harga masing-masing operator. Walaupun masih secara umum dari penawaran harga masing-masing operator diatas terlihat bahwa Telkomsel berani mempertahankan tarif dengan tidak menururunkan tarif terlalu rendah. Hal ini mengindikasikan pelanggan yang sekarang dimiliki oleh Telkomsel adalah pelanggan menengah atas. Disamping itu Telkomsel berhasil mempertahankan loyalitas pelanggan dengan layanan jaringan terluas dan penambahan layanan lainnya seperti 3G. Harga tarif seluler termahal lainnya yaitu Mentari yang merupakan produk Indosat dan diikuti oleh Excelcomindo. Mempertahankan pelanggan yang loyal sekarang ini memang sangat sulit terlebih lagi berbagai produk layanan baru yang diberikan oleh operator pendatang baru cukup beragam. Salah satu cara untuk mempertahankan pelanggan yang dilakukan oleh tiga operator besar yaitu mengkonversi kartu pra bayar menjadi kartu pasca bayar.

Sebagai akibat dari perang harga dan banyaknya produk yang beredar dipasar, angka perputaran pelanggan telepon seluler di Indonesia mencapai 8.6%.[5] Angka perputaran yang cukup tinggi dibanding dengan negara-negara lain seperti India, China, dan Malaysia. Ini menggambarkan bahwa konsumen seluler di Indonesia sangat mudah berganti operator. Dengan industri yang turbulence, bargaining power of new entrant tinggi, banyaknya produk yang beredar dipasaran, dan terjadinya perang tarif masih layakkah bagi para operator seluler melakukan branding? Apa yang harus dilakukan untuk meng-capture pasar yang terus berkembang? Dan strategi apa yang sebaiknya dilakukan agar tidak terjerumus kedalam perang harga yang terus berlangsung?

Integrated Analysis Marketing sebagai Strategi Marketing untuk Meningkatkan Efektifitas Branding.

Pertanyaan-pertanyaan di atas memang cukup membingungkan karena keadaan pasar sangat kompetitif. Persaingan pasar bukan hanya dari segi perang tarif saja tetapi juga melebar ke persaingan branding dimana setiap operator seluler membangun brand atas produknya dengan melakukan marketing communication melalui promosi di media masa maupun media elektronik. Dengan kegiatan branding yang gencar yang dilakukan oleh operator seluler akan berpengaruh pada margin laba atas penjualan produk, sehingga margin laba akan terus menipis. Kebutuhan akan branding atas sebuah produk berjalan sejajar dengan tingkat persaingan dimana jika tingkat persaingan tinggi maka biaya untuk membangun brand atas sebuah produk juga akan semakin tinggi. Yang menjadi masalah disini jika tingkat persaingan tinggi dimana produk dipasaran cukup banyak maka product life cycle akan semakin pendek serta persaingan akan mengarah ke bentuk persaingan harga. Gambaran tersebut merupakan gambaran yang saat ini terjadi pada industri seluler di Indonesia.

Berkaitan dengan pertanyaan masih layakkah branding dilakukan pada keadaan sekarang dalam industri seluler, jawabannya branding merupakan sesuatu hal yang wajib dilakukan. Namun demikian agar branding yang dilakukan tidak sia-sia dan menambah laba perusahaan maka branding yang dilakukan oleh perusahaan harus efektif. Efektifitas branding tercapai jika branding yang dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen maka perusahaan bisa melakukannya dengan menggali customer insight dimana persepsi tentang produk dipandang dari sudut pandang konsumen. Perusahaan bisa mempelajari perilaku konsumen untuk memperdalam dan memperoleh gambaran yang jelas mengenai konsumennya. Dalam hal ini kegiatan branding yang merupakan kegiatan marketing, agar lebih efektif perusahaan operator seluler yang bergerak di industri seluler dapat menggunakan Integrated Analysis Marketing sebagai strategi marketing.

Gambar 1. Integrated Analysis Marketing sebagai Strategi Marketing

Untuk memperoleh gambaran produk yang dibutuhkan konsumen, harga yang sesuai dengan daya beli konsumen, dimana dan bagaimana konsumen merasa nyaman dan aman saat bertransaksi, bagaimana promosi sebagai bentuk komunikasi dapat menarik perhatian konsumen (menciptakan awareness) dan menumbuhkan minat beli (menciptakan equity) konsumen, serta bagaimana sebuah produk dikemas, operator seluler terlebih dahulu perlu menggali perilaku konsumen. Setelah memperoleh gambaran yang jelas maka dilakukan pengukuran mengenai seberapa besar produk perusahaan sudah memenuhi kebutuhan konsumen dan apa saja kebutuhan-kebutuhan yang belum tergali dari konsumen. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan strategi kanvas untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai hidden needs atau unmentioned benefit dari konsumen. Output dari strategi kanvas selanjutnya sebagai dasar kegiatan marketing yang didalamnya termasuk segmenting, targeting, dan positioning.

Keadaan dan Perilaku Konsumen Seluler di Indonesia

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas maka terlebih dahulu harus melihat keadaan pasar dan perilaku konsumen seluler di Indonesia. Saat ini diperkirakan potensi pasar telekomunikasi Indonesia mencapai 300 triliun percakapan per tahun. Dari potensi tersebut baru terealisasi 88 triliun pada 2006. Artinya pasar baru terlayani 30%, dan masih terbuka 70% lagi sebesar 210 triliun, dua kali lipat dari pasar saat ini.[6] Sedangkan untuk penggunaan teknologi, GSM masih merupakan teknologi yang paling banyak diminati konsumen diikuti oleh CDMA dan PDA. Konsumen Indonesia masih menyukai teknologi GSM karena GSM mempunyai kelebihan jaringan yang luas dan kualitas suara penerimaan telepon yang jernih. Sedangkan untuk CDMA keunggulannya yaitu manfaat biaya bagi konsumen. Teknologi CDMA mampu menyajikan biaya telepon murah bagi konsumen. Lain lagi dengan PDA, teknologi ini di Indonesia masih tergolong baru. Karena infrastruktur telekomunikasi yang belum mendukung teknologi ini belum bisa digunakan dengan maksimal dan biayanya masih mahal. Pengguna PDA terbatas pada segmen tertentu yaitu kalangan menengah atas yang merupakan para profesional. Pelanggan atau pengguna seluler dapat dibedakan menjadi dua yaitu pelanggan seluler yang benar-benar baru menggunakan seluler dan pelanggan yang sudah menggunakan seluler sebelumnya.

Gambar 2. Pemetaan Konsumen Seluler dan Penggunaan Teknologi Seluler

Pelanggan yang sudah menggunakan seluler sebelumnya dikategorikan sebagai pelanggan lama. Perilaku pada kedua konsumen seluler tersebut berbeda. Pengguna seluler baru biasanya pertama kali menggunakan teknologi GSM dan mempunyai kecenderungan berganti kartu perdana dengan operator seluler yang berbeda sebanyak satu atau dua kali. Penggunaan layanan operator seluler pada konsumen ini dipengaruhi oleh komunitas atau lingkungan, disamping alternatif biaya layanan yang termurah. Jenis konsumen ini berumur rata-rata 15 sampai 20 tahun dan jika di atas umur 20 tahun konsumen ini biasanya bertempat tinggal di pedesaan. GSM menjadi alternatif pilihan pertama pada konsumen pengguna telepon pelanggan baru. Setelah melewati kurun waktu satu sampai dua tahun konsumen ini akan menambah alternatif layanan lainnya yang cenderung baru dan murah dengan membeli kartu perdana baru. Pengguna atau pelanggan lama yaitu pengguna seluler yang sudah menggunakan seluler dari awal munculnya seluler. Pelanggan seluler lama mempunyai kecenderungan tidak akan mengganti layanan operator seluler pertamanya. Teknologi yang digunakan pelanggan lama yaitu GSM karena pada awal munculnya seluler di Indonesia hanya teknologi GSM. Dengan berkembangnya teknologi dan kebutuhan, pelanggan lama akan mencari layanan baru seluler dengan menambah atau membeli kartu perdana baru. Pelanggan lama akan menggunakan CDMA Fixed Wireless Access (FAC) untuk mendapatkan biaya yang lebih murah. Jadi perkembangan konsumen kedepan nantinya setiap konsumen akan mempunyai minimal dua layanan seluler dengan operator yang berbeda. Hal ini dikarenakan meningkatnya kebutuhan konsumen yang mengacu pada komunitas dan kepentingan atau bisnis masing-masing konsumen.

Matrik Segmentasi pada Industri Seluler di Indonesia

Dari perilaku konsumen diatas, dalam rangka melihat kebutuhan dan keinginan konsumen lebih jelas bisa dibuat matrik segmentasi. Matrik segmentasi ini merupakan kegiatan atau aktivitas pengelompokan perilaku konsumen. Penentuan pengelompokan didasarkan pada tren dari perilaku konsumen.

Gambar 3. Matrik Segmentasi pada Industri Seluler

Pengelompokan berdasarkan pada kegiatan konsumen yang bersifat formal dan informal serta kegiatan konsumen yang bersifat individual dan komunitas (kebersamaan). Dengan dasar pengelompokan tersebut maka didapat empat kelompok segmentasi yang membentuk matrik yang diantaranya yaitu:

v  Business Man: Terbentuk dari kegiatan individual yang bersifat formal. Kegiatan formal individu misalnya adalah kegiatan kerja. Kelompok segmen ini merupakan konsumen yang sudah bekerja dan menjalankan usaha sendiri. Penggunaan layanan seluler tidak terpengaruh oleh komunitas. Mempunyai maksimal dua atau lebih layanan seluler dengan operator yang berbeda. Karena tingkat mobilitas tinggi konsumen dalam kategori business man cenderung memilih layanan seluler yang simpel dan mempunyai jaringan luas. Tidak resisten terhadap harga serta mengutamakan kemudahan dalam akses layanan, pembayaran, serta penggunaan layanan.

v  Corporate: Terbentuk dari kegiatan komunitas yang mempengaruhi keputusan pemakaian produk yang bersifat formal. Kegiatan formal komunitas terbentuk karena kegiatan bersama, satu profesi dan rasa satu nasib. Kegiatan ini mudah terbentuk dalam lingkungan kerja yang anggotanya para karyawan dan profesional perusahaan. Keputusan penggunaan layanan sangat tergantung komunitas. Biasanya mempunyai layanan seluler lebih dari dua dengan operator yang berbeda. Menuntut adanya layanan yang komplek seperti layanan e-banking, email, browsing dan sebagainya. Sangat terbuka terhadap teknologi baru dan merupakan trendsetter dari lingkungan lainnya.

v  Friendship Community: Terbentuk dari kegiatan komunitas yang mempengaruhi keputusan pemakaian produk yang bersifat informal. Segmen friendship community terbentuk dari kegiatan yang bersifat informal seperti kelompok bermain. Kelompok ini terbentuk karena persamaan persepsi yang membentuk chemistry pertemanan. Sangat berpengaruh pada keputusan konsumen dalam penggunaan layanan seluler. Lebih mengutamakan layanan seluler yang bersifat baru yang dapat mempererat hubungan antara komunitas.

v  Young People: Terbentuk dari kegiatan individual yang bersifat formal. Kelompok ini umumnya masih duduk di bangku SMP dan SMU atau dengan umur kurang dari 20 tahun. Keputusan untuk membeli produk pada kelompok segmen ini dipengaruhi oleh tren yang terjadi di masyarakat. Resisten terhadap harga, dan menekankan feature pada layanan seluler. Setiap konsumen memiliki satu layanan operator dan mempunyai kecenderungan berganti-ganti layanan operator. Sangat mudah dipengaruhi oleh iklan dan bentuk promosi lainnya.

Segmentasi di atas merupakan segmentasi dinamis artinya pengelompokan konsumen kedalam empat kelompok tersebut bisa berkembang. Pergerakan perkembangan tiap kelompok dari informal menuju kearah informal dan dari arah individu menuju kearah community. Pada saat perubahan tersebut konsumen akan mengganti layanan seluler dengan operator yang berbeda yang sebelumnya dimiliki oleh konsumen.

Gambar 4. Perkembangan Pergerakan Matrik Segmentasi

Pengukuran: Strategi Kanvas untuk Menggambarkan Posisi para Pemain dalam Persaingan.

Pada dasarnya strategi kanvas digunakan untuk menggambarkan posisi perusahaan pada sebuah persaingan yang terjadi di pasar. Dengan berbagai item pengukuran yang mengacu pada produk dan layanan, dengan strategi kanvas posisi perusahaan dapat digambarkan dengan jelas dengan siapa dia dan pada area mana perusahaan bersaing. Dan yang lebih penting penggambaran posisi perusahaan dalam persaingan dapat digunakan untuk merestrukturisasi nilai yang ditawarkan kepada konsumen, dengan mengacu pada consumer insight. Restrukturisasi nilai yang berdasarkan pada consumer insight akan menciptakan diferensiasi atas produk dan layanan yang selanjutnya akan digunakan untuk re-positioning produk dan layanan perusahaan. Dengan menciptakan atau menghilangkan, menambah atau mengurangi nilai yang sekarang yang tergambar dalam grafik kanvas maka akan tercipta sebuah nilai baru yang ditawarkan kepada konsumen. Nilai baru tersebut jika sesuai dengan consumer insight maka akan tercipta tren baru pada industri seluler. Sehingga persaingan harga dapat dialihkan pada area persaingan yang diinginkan oleh perusahaan.

Untuk memperjelas, dari data diatas dapat dibuat grafik kanvas. Tetapi pengukuran nilai atas item-item disini didasarkan pada asumsi dan persepsi yang didapat dari data sebelumnya (Tabel 1,2,3,4,5). Dalam kejadian sebenarnya pengukuran item kanvas biasanya dilakukan dengan melakukan survei konsumen. Penentuan 12 item sendiri berdasarkan persepsi bahwa 12 item tersebutlah yang mewakili nilai produk dan layanan seluler. Pengukuran item dengan menggunakan skor yang range-nya antara 1 sampai 10. Skor tersebut dibagai dalam tiga kategori:

  1. Kategori rendah yaitu skor 1-3

  2. Kategori sedang yaitu skor 4-6 dan,

Kategori tinggi yaitu skor 7-10

Dari data diatas maka diperoleh 12 item sebagai data pengukuran yang akan diperbandingkan yang akan tergambar pada grafik kanvas, item tersebut yaitu:

No.

Item Pengukuran

Telkomsel

Indosat

Excelcomindo

Bakrie

Mobil-8

1

Harga

8

6

5

3

3

2

Kualitas Suara

8

7

7

6

5

3

Kualitas Jaringan

9

7

7

3

4

4

Kualitas Internet

8

7

9

4

4

5

Kualitas Penggunaan (usefully)

9

8

8

5

5

6

Kecepatan transfer data

8

8

9

5

4

7

Kecepatan Proses Penggunaan

9

8

8

6

5

8

Kemudahan Pembayaran

8

8

8

7

7

9

Kualitas Pelayanan (customer Relationship)

8

7

9

7

7

10

Jaringan Counter

9

7

7

4

5

11

Kemudahan untuk Mendapatkan Produk

9

8

8

4

3

12

Keramahan Layanan

8

7

8

7

7

Tabel 6. Item Pengukuran Strategi Kanvas

                Besarnya skor berbanding lurus dengan harga, kualitas produk, dan kualitas layanan. Dalam pengukuran ini yang digali adalah harga, kualitas produk, dan kualitas layanan yang ditawarkan masing-masing operator seluler kepada konsumen. Dari sepuluh operator dipilih lima perator sebagai benchmarking dengan alasan keterbatasan data dan kontribusi operator terhadap persaingan yang terjadi. Kelima operator itu diantaranya Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, Bakrie, dan Mobil-8 yang dianggap berperan besar dalam persaingan yang mengarah pada perang harga (price war). Setelah mendapatkan skor maka sudah bisa dihasilkan grafik kanvas sebagai berikut.

Grafik 1. Grafik Kanvas dari Kelima Operator Seluler

Dari grafik diatas terlihat bahwa tiga operator besar (Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo) bermain di area yang sama yaitu bermain dilevel atas. Sedangkan dua new comer (Bakrie dan Mobile) bermain di area yang sama juga tetapi pada level yang berbeda yaitu level menengah bawah. Dengan mempertimbangkan consumer insight dan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan maka perusahaan dapat merestrukturisasi dengan menggeser nilai kearah yang berbeda.

Implementasi Integrated Analysis Marketing

Strategi kanvas digunakan untuk menggambarkan posisi perusahaan dalam persaingan. Selanjutnya perusahaan melakukan restrukturisasi dengan dasar consumer insight yang mengacu pada grafik kanvas untuk menciptakan nilai yang berbeda. Nilai yang berbeda akan menciptakan positioning baru perusahaan.

Gambar 5. Implementasi Integrated Analysis Marketing

Restrukturisasi diimplementasikan dengan membuat nilai baru pada harga, produk, promosi, tempat dan pengemasan. Selanjutnya untuk pembentukan branding, perusahaan dapat melakukan segala aktivitas marketing yang mendukung nilai baru sebagai positioning perusahaan. Dan dengan itulah tercipta aktivitas marketing yang terintegrasi yang berdasarkan pada analisis marketing. Analisis disini untuk menciptakan efisiensi dan efektifitas dari segi pembentukan nilai dan juga dari segi branding. Untuk menjaga kesinambungan nilai baru tersebut maka harus dilakukan kegiatan branding yang konsisten dan kontinyu, menjaga brand equity yang tercipta leverage atas branding.

Penutup

Dengan kondisi industri layanan seluler sekarang ini, perusahaan operator seluler dituntut untuk kreatif. Mengandalkan penekanan harga dalam menghadapi persingan bukanlah tindakan yang baik. Perusahaan harus mengalihkan persaingan ke area yang berbeda. Dengan merestrukturisasi nilai dari produk dan layanan, perusahaan dapat mencipakan tren baru yang mengubah rule of the game industri yang sudah baku. Retrukturisasi yang didasarkan pada kebutuhan dan keinginan konsumen yang belum terpenuhi akan menciptakan nilai baru bagi konsumen. Didukung dengan penggambaran posisi persaingan perusahaan sebagai panduan arah restrukturisasi nilai maka perusahaan akan menciptakan diferensiasi yang akhirnya akan melahirkan positioning baru di hati konsumen. Didukung dengan aktifitas branding yang efektif maka perusahaan akan melangkah ke fase growth pada sebuah industri yang mature. Sebuah pencapaian tertinggi untuk menghasilkan laba tanpa mengorbankan konsumen dan malah memuaskan konsumen.



[1] http://www.antara.co.id/en (Natan dan Atmitra)

[2] http://www.antara.co.id/en (Natan dan Atmitra)

[3] http://www.antara.co.id/en (Natan dan Atmitra)

[4] http://www.antara.co.id/en (Natan dan Atmitra)